Selasa, 10 Mei 2011

Cerpen Remaja

TENTANG AKU

“Ngobrolnya nanti saja, saya ikut !”. Jawabnya sambil tersenyum ke arahku.
Aku berjalan di belakang Kak Radit sambil tersenyum senang, aku tak menduga akan bertemu dengan Kak Radit dan satu sekolah dengannya. Sesampainya di depan toilet, Kak Radit menyuruhku untuk segera membersihkan tubuhku, sedang dia menunggu di luar. Setelah selesai membersihkan tepung di wajah dan tubuhku, aku keluar toilet namun bau amis masih tetap tersium dari tubuhku, dan tepung putih masih menempel di rambut dan baju ku.
Kak Radit menyambutku dengan senyumnya yang menawan, aku dengan gugup mendekat kepadanya. Aku tau kenapa aku senang dan gugup melihatnya, kami memang sudah lima tahun ini tak bertemu. Kak Radit adalah teman bermainku di sekolah saat SD, meskipun Kak Radit duduk di 2 kelas di atasku namun kami sangat akrab. Bermula saat dia sedang bermain sepak bola dan mengenai kepalaku sampai aku pingsan, mungkin Kak Radit merasa bersalah padaku karena sejak kejadian itu Kak Radit sangat baik padaku.
Lama-lama kamipun menjadi sangat akrab, namun keakraban kami hanya bertahan tiga tahun saja, karena setelah dia lulus SD, Kak Radit melanjutkan ke SMP yang berbeda dengan SMP ku.tapi aku senang karena sekarang aku satu sekolah lagi dengan Kak Radit, jadi setiap hari aku akan bertemu dengan orang yang diam-diam aku kagumi itu. Aku memang sudah jatuh hati kepada Kak Radit sejak SD, namun aku memendamnya. Aku merasa tak pantas untuk mengatakannya.
Kami berdua tertawa mengingat masa kecil kami berdua, dan terus tertawa sambil berceloteh ini itu. Mungkin itu ungkapan untuk melepaskan kerinduan kami. Sepulang sekolah Mia menghampiri aku dengan wajah bertanya-tanya, karena aku yang terlihat sedang senang.
“Cowok ganteng tadi siapa Ra?”. Tanya Mia penasaran.
“Kak Radit, sahabat aku saat SD dulu, ingat kan? “Kataku  sambil balik bertanya padanya.
“serius....? sekarang ganteng banget ya?! Terus tadi ngobrolin apa aja?” terlihat wajah Mia yang masih penasaran.
“Ada ajah...” jawabku sambil tertawa kecil.
Sedang asyik kami bersenda gurau, Zaskia berjalan mendahului kami lalu berhenti dan membalikkan badan ke arah kami. Wajahnya tampak marah, aku dan Mia langsung menghentikan gurauan kami.
“kamu pikir kamu menang? Kamu tunggu saja kejutan dari aku karena aku nggak akan membiarkan orang-orang seperti kalian merasa tentram di sini”. Kata Zaskia sambil tersenyum sinis dan pergi.
“Mak Lampir itu ngomong apa sih?”. Tanya Mia
“Mene ke tehe” Jawabku dan Mia bersamaan sambil tertawa.
Mulai hari itu Zaskia seperti menganggap aku dan Mia sebagai musuh, tetapi kami berdua tak pernah ambil pusing. Zaskia terus merasa berkuasa di sekolah. Para murid-murid tak ada yang berani mencari perkara dengannya.
Aku dan Kak Radit juga semakin akrab, saat jam istirahat kami sering pergi ke kantin/perpustakaan bersama. Melihat kedekatan kami semua orang heran, begitu juga Zaskia yang selalu bersikap sinis kepadaku.
Suatu hari Mia datang kepadaku dan bercerita bahwa Zaskia bersikap sinis kepadaku karena dia suka kepada Kak Radit dan menganggap aku adalah saingannya. Aku hanya tersenyum kecil mendengar cerita Mia. Saat jam istirahat aku dan Kak Radit duduk di kantin. Kami sedang menunggu Mia yang pergi ke toilet.
“Hai Kak Radit”. Zaskia terlihat manis memandang ke arah Kak Radit sambil menyapanya. Kemudian menatap ke arahku yang duduk satu meja dengan Kak Radit dengan tatapan sinis.
Kulihat Kak Radit tersenyum ke arah Zaskia. Setelah Zaskia pergi aku membahas Zaskia dengan tujuan ingin mengetahui pendapat Kak Radit tentang Zaskia.
“Cantik, populer, keponakan kepala sekolah lagi. Hebat banget ya Kak?!” Tanyaku.
“Yaa..... cukup menawan”. Jawab Kak Radit.
Bibirku tersenyum, tapi hatiku berkata memang cewek seperti itulah tipe cewek idaman Kak Radit. Jadi mustahil perasaanku akan terbalas. Sesekali aku menghela napas, Kak Radit heran melihat aku.
“Kok menghela napas, pasti sudah lapar ya?”. Tanya Kak Radit.
“Aku juga sudah lapar kok”. Kata Mia yang baru datang sambil berdiri di samping kami. Kami bertiga pun tertawa.


*******************************************************************

Kini Kak Radit sudah menjadi hari-hariku, tiada hari tanpa bertemu dnegannya. Hari minggupun kami sering jogging bersama, aku, Mia dan Kak Radit.
Perasaanku yang dulu pernah kurasakan sekarang kembali aku rasakan, rasa damai dan tentram saat di sampingnya. Rasa senang bila berjumpa dengannya. Rasa rindu bila tak bertemu. Terkadang aku tersenyum sendiri saat mengenang kebersamaan kami.
Hari Minggu siang kami berniat akan pergi ke tempat peminjaman buku, tapi sesampainya di depan rumah, aku bertemu Mia yang hendak ke rumahku meminjam buku buku fisika. Sedang asyik kami ngobrol tiba-tiba datang seseorang naik motor dan berhenti di depan rumahku. Lelaki itu membuka helemnya lalu tersenyum.   Aku dan Mia saling berpandangan dan saling bertanya satu sama lain, siapakah yang datang itu?!.
“Hai....!”. Sapa Kak Radit kepada kami sambil melambaikan tangan ke arah kami.
“Kak Radit.....?” Kataku dan Mia bersamaan.
Kami berdua langsung mendekat ke arah Kak Radit, Kak Radit menyambut kami dengan senyumnya, senyum yang mampu membuat hatiku berbunga-bunga. Kulihat juga raut muka Mia yang tampak senang dengan kedatangan Kak Radit. Setelah  kami dekat dengan Kak Radit, Mia menyapa Kak Radit.
“Hai Kak Radit, mau kemana?”. Tanya Mia kecentilan.
“Aku mau....”. Kak Radit tak meneruskan kata-katanya.
“Mau ke rumah aku ya, ayo masuk Kak!. Aku punya kue bromnies, enak lho. Aku sendiri yang buat. Ayok...”. Ajak Mia sambil menarik tangan Kak Radit.
“Wah kamu pinter masak ya ?!” Tany Kak Radit.
“Iya dong, ayo Kak!”. Mia menggandeng tangan Kak Radit mengajaknya ke rumah. Aku hanya diam tanpa ekspresi melihatnya.
“Kamu enggak’ ikut Ra?”. Tanya Kak Radit.
“Nggak usah Kak, aku mau pinjam novel”. Aku memaksa tersenyum pada Kak Radit.
“Hati-hati ya Ra, daaah...”. Kata Mia menggandeng erat tangan Kak Radit sambil terus berjalan.
Aku hanya bisa melihat iri ke arah Mia, kulihat Kak Radit dan Mia tampak senang. Akupun menghela napas dan membalikkan badan, berjalan menuju tempat peminjaman buku. Dalam perjalananku, aku terus bergumam. Aku memang terlalu percaya diri dan berharap terlalu tinggi, mana mungkin Kak Radit mau ke rumahku. Jelas dia ingin ke rumah Mia, lagipula Mia adalah tipe ideal Kak Radit. Aku memang bodoh, gumamku sambil memukul-mukul kepalaku.
Sesampainya di tempat peminjaman buku aku langsung mengambil komik Sinchan, lalu aku duduk di bangku pengunjung. Niatku dari rumah memang ingin membaca komik Sinchan di sini tapi pikiranku sudah dipenuhi dengan rasa kesal dan minder. Aku mulai membuka-buka komik yang ku pegang, membolak-balik dari halaman yang satu ke halaman yang lainnya. Tapi bayangan Kak Radit bersama Mia terus terlintas di benakku.
Aku ingin berteriak melampiaskan kekesalanku tapi aku tak bisa, aku hanya bisa menangis. Aku tak tau kenapa air mataku keluar begitu saja setelah mengingat kejadian tadi. Aku terisak-isak, membuat penjaga tempat aku meminjam buku itu menghampiriku dan bertanya.
“Kenapa adik menangis?”. Tanyanya heran.
Ngak kenapa-kenapa Pak, ceritanya sangat menyedihkan jadi aku sempat menangis membacanya.” Jawabku sambil mengusap air mataku.
“Menyedihkan? Yang kamu baca kan komik Sinchan. Dan komik Sinchan itu lucu, kok kamu bilang menyedihkan?!”. Tanyanya sambil menggaruk-garuk kepala tanda dia sedang bingung.
“Ooh..... saya salah baca ya?, ya sudah saya pulang saja ya Pak. Daaah...!”. Kataku sambil pergi, aku tersenyum ke arah penjaga itu dan dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sesampainya di rumah, aku langsung membantingkan tubuhku ke kasur, niatku akan langsung tidur supaya bisa melupakan kejadian tadi, tapi tiba-tiba Kak Rian datang berniat meminjam penggaris, Aku sudah menyuruh mencarinya di meja belajar tapi Kak Rian bilang tak ada.
“Kak Rian ganggu orang mau istirahat aja”. Kataku sebel sambil berdiri lalu mencarikan penggaris yang diminta Kak Rian. Setelah aku menemukannya lalu langsung memberikan kepada Kak Rian dan mendorongnya keluar dari kamarku.

*******************************************************************

Keesok harinya, saat pulang sekolah aku berjalan sendirian di lorong sekolah, aku berjalan dengan santai, kulihat dari arah berlawanan Kak Radit berjalan bersama seorang temannya. Mereka terlihat sedang mengobrol, sesampainya di dekat tangga tiba-tiba,,, bruuuk!! Aku terpeleset. Pinggangku rasanya sakit, ternyata lantainya masih basah. Malihat aku tengah terjatuh Kak Radit menghampiriku berniat untuk menolongku, tapi aku menolaknya.
“Kamu nggak apa-apa Ra? Sini aku bantuin!”.  Katanya smabil mencoba membantu aku berdiri.
“Nggak usah, aku bisa sendiri.” Jawabku sewot, lalu aku pergi, berjalan meninggalkan Kak Radit yang masih terdiam, kupegangi pinggangku yang terasa sakit, aku menoleh ke arah Kak Radit yang bingung dengan sikapku. Memang sial nasibku hari ini, pagi-pagi Zaskia CS sudah mengerjaiku dengan menaruh bubuk kapler di tempat duduk, dan semua teman sekelas tertawa saat aku mengerjakan tugas di depan kelas. Pulang sekolah aku terpeleset, dan sekarang aku harus menunggu angkutan yang sejak tadi tak kelihatan batang hidungnya. Padahal aku sudah menunggu lebih dari setengah jam. Memang sial benar nasibku hari ini.
Tiba-tiba Kak Radit menghampiri aku dengan motor kerennya, dia menawarkan untuk mengantarku pulang, tapi aku menolaknya mentah-mentah.
“Aku bisa pulang sendiri, dan aku nggak butuh bantuan Kakak”. Jawab ku dengan setengah marah.
“Kamu kenapa Ra, kamu marah ke kakak? Kamu ngomong dong kakak salah apa? Biar kakak tau kesalahan kakak”.
“Kak Radit nggak salah, aku aja yang terlalu bodoh”. Aku berjalan ke arah angkutan yang sudah berhenti meninggalkan Kak Radit yang tampak bingung.
Sesampainya di rumah, aku langsung menelpon Mia, aku ingin curhat kepadanya. Aku berharap Mia sudah pulang, jadi aku bisa cerita panjang lebar.
“Iya Ra, ngobrolnya nanti aja ya. Sekarang aku lagi berjalan sama cowok, kenalan baru aku. Nanti kalau aku sudah pulang, aku langsung ke rumah kamu, aku juga mau cerita banyak ke kamu”. Tut, tut, tut. Belum sempat aku berbicara sepatah katapun Mia sudah metutup teleponnya.
Ku banting telepon genggamku ke kasur, lalu aku berteriak dan menangis sejadi-jadinya. Aku tak tau kenapa aku jadi seperti ini, karena semua ini tak pernah terjadi sebelumnya. Aku hanya bisa menangis sambil memukul-mukul bantal yang ada di pangkuanku, lalu aku berdiri dari tempat tidurku sambil mengusap air mataku, kudekati cermin besar di depanku.
Aku bertanya kepada seseorang di dalam cermin, apa aku tak pantas untuk dicintai?!. Aku memang bukan perempuan cantik dan penuh pesona, aku hanya manusia biasa yang ingin dicintai, aku ingin perasaanku selama ini terbalaskan, sudah enam tahun aku memendam dalam-dalam perasaan ini, mencoba sekuat hati untuk tak membagi rasa itu pada yang lain, meski aku harus menelan kenyataan pahit bahwa Kak Rian tak akan pernah membiarkan aku dekat dengan Kak Radit karena masalah antara mereka berdua.
Selama ini memang Kak Rian belum tau kalau aku satu sekolah dengan Kak Radit, tetapi cepat atau lambat Kak Rian pasti akan tahu dan berakhir dengan perdebatan panjang antara aku dan Kak Rian. Sekeras apapun Kak Rian menahanku, aku akan tetap mempertahankan perasaanku yang kuanggap sebagai cinta sejati.

*******************************************************************

Hari ini Hari Rabu aku berangkat sekolah sendirian, karena tadi pagi-pagi Mia menelpon ku memberi tahu bahwa dia tidak bisa berangkat dengan ku karena pacar barunya. Mulai satu minggu yang lalu Mia tak lagi punya waktu untukku. Dia sibuk dengan kegiatan-kegiatan barunya. Sedangkan aku sendiri melawan gemelut hatiku, tak ada tempat mengadu, tak ada teman berbagi.
Sejak Kak Radit datang ke rumah Mia dua mingu yang lalu aku memilih menghindar dari Kak Radit. Aku tak ingin berharap terlalu tinggi, tapi hati terasa bagai tercabik-cabik. Setiap Kak Radit menghampiriku aku selau berpura-pura bahwa aku sedang sibuk. Jam pelajan Bahasa Inggris sudah habis waktunya istirahat. Aku berjalan menuju perpustakaan untuk mencari buku untuk tugas biologi besuk lusa. Setelah kutemukan bukunya aku langsung menuju kantin, karena tadi pagi aku tak sempat sarapan.
Sesampainya di kantin, aku heran dengan suasana kantin yang sangat ramai, tak seperti biasanya ada kegiatan apa? Apakah ada yang Ulang Tahun pikirki. Kudengar suara seorang perempuan menyuruh semua untuk tenang. Aku mendekat ke arah suara di tengah kerumunan para siswa itu, kulihat Zaskia menggandeng Kak Radit sambil mengumumkan sesuatu hal pada teman-teman.
“Teman-teman semua, mulai hari ini aku dan Kak Radit resmi berpacaran”. Kata Zaskia. Semua siswa yang berkerumun bertepuk tangan  bergembira mendengar kalimat Zaskia. Tapi tidak denganku, aku kaget bukan main mendengar kalimat itu, jantungku seakan berhenti mendetak, tubuhku menjadi kaku, sampai-sampai buku yang baru kuambil dari perpustakaan sekolah yang kini ada di tanganku jatuh ke lantai. Semua menatap ke arahku.
“Sorry ......”. Kataku sambil mengambil buku ku yang terjatuh lalu pergi.
“Maura...!”. Teriak Kak Radit memanggilku, tetapi aku terus berjalan seolah tak mendengar teriakan itu.
“Sudahlah sayang, ngapain ngurusin orang nggak penting, ini kan perayaan atas hari jadian kita”. Suara Zaskia menahan Kak Radit.
Hati benar-benar hancur mendengar kenyataan ini, cinta yang kupendam selama enam tahun ini pupus begitu saja. Aku ingin menangis meluapkan perasaanku. Hari itu kuanggap sebagai hari berkabung dalam hidupku. Dan sejak hari itu gairah hidupku seakan sirna perlahan-lahan.

*******************************************************************

Pagi ini Kak Rian mengantarku ke sekolah. Tak sengaja kami bertemu dengan Kak Radit dan Zaskia yang kebetulan lewat. Kak Radit menyapa,
“Hai Ra, Hai Yan, apa kabar?”. Sapa Kak Radit padaku dan Kak Rian, kulihat raut tak suka di wajah Zaskia. Aku membalas sapaan Kak Radit dengan senyuman yang kupaksa. Sementara Kak Rian langsung pergi dengan motornya tanpa menjawab apapun, tampak jelas wajah marah Kak Rian.
“Aku duluan ya Kak, “. Kataku meninggalkan Kak Radit dan Zaskia.
Sepulang sekolah, Kak Rian sudah menungguku di ruang tamu, wajahnya tampak sedang marah.
“Kak Rian nggak kuliah?”. Tanyaku ragu-ragu.
“Hoh,..... jadi dia yang membuat kamu kemarin nggak keluar kamar seharian, apa yang kamu harapkan dari cowok playboy seperti dia?!”. Kak Rian benar-benar marah padaku.
“Aku memang nggak tau masalah apa yang sudah terjadi antara Kak Rian dengan Kak Radit, aku mohon Kakak nggak usah bawa-bawa aku”.
“Aku kakak kamu, aku peduli sama kamu. Lebih baik kamu pindah sekolah saja. Kakak tidak mau kalau kamu setiap hari bertemu dengan bajingan itu”.
Aku belum pernah melihat Kak Rian semarah itu, aku juga tak tau apakah Kak Rian melarangku karena dia tak mau aku sakit hati atau karena hal lain. Beberapa hari setelah kemarahan Kak Rian reda, aku menjelaskan bahwa aku tidak ada hubungan apapun dengan Kak Radit, dan aku berada di sekolah itu untuk tujuan menuntut ilmu bukan bertemu Kak Radit.
Enam bulan sudah aku berusaha menghindari Kak Radit, berharap rasa hatiku terkikis hingga habis. Tapi hatiku masih tetap terasa sakit melihat kemesraan antara Kak Radit dan Zaskia. Suatu hari Mia punya waktu luang untukku, kucurahkan semua yang selama ini aku pendam. Mia memang hanya bisa mendengarkanku sambil menepuk pundakku, bagiku itu sudah cukup.
Aku tak mau berlarut-larut  dalam angan-angan untuk mendapat balasan cinta dari Kak Radit. Di pertengahan semester 2 aku memutuskan untuk melupakan semua yang pernah terjadi, akhirnya aku pindah ke rumah nenek di Malang. Aku berharap dengan pindah ke rumah nenek aku bisa memulai lembaran baru, melupakan cinta monyet ku.
Hari Jum’at itu menjadi hari terakhirku masuk sekolah, mengucapkan salam perpisahan kepada teman-teman. Aku tak tau kenapa tiba-tiba Kak Radit menghampiriku saat  aku berada di perpustakaan.
“Aku dengar kamu mau pindah ke Malang?”.
“Iya Kak, hari ini tarakhir aku di sini.”
“Untuk apa Ra? Kenapa selama ini kamu selalu menghindar dari aku, dan sekarang kamu mau pindah ke Malang, kenapa Ra selama ini aku salah apa?” Wajah Kak Radit memelas. Aku menahan air mataku, lalu kuungkapkan semua yang selama ini ingin aku ungkapkan.
“Aku ingin hidup tenang...!”
“Apa maksud kamu Ra?”.
“Aku mau hidup terang bebas dari belenggu cinta aku ke kakak selama ini. Aku mau pergi dimana aku nggak akan pernah ketemu kakak, dan aku ingin melupakan masa kecil kita dan semua tentang Kak Radit. Aku nggak mau selamanya hidup untuk mencintai kakak”. Emosiku memuncak, air mataku jatuh membasahi pipiku, kutinggalkan sahabat masa kecilku itu masih tetap diam terpaku.
Hari Minggu semua sudah siap, Papa, Mama dan Kak Rian sudah siap mengantarkan aku ke rumah nenek. Mia pun menangis melepaskan kepergianku. Tapi aku berjanji kepadanya akan tetap menjaga komunikasi kami. Akupun pergi diiringi tangisan Mia. Aku tahu Mia, pasti sangat sedih karena aku akan tinggal di rumah nenek hingga lulus SMA.
Sesampainya di rumah nenek, Mia menelponku, memberi tahu ku bahwa Kak Radit baru saja kerumahnya, tapi aku tak mau mendengar apapun dari Mia tentang Kak Radit.
“Ra, tadi Kak Radit ke sini, dia sebenarnya mau....!”. belum selesai Mia bicara aku langsung memotong.
“Sorry Mia, sekarang aku sudah di Malang dan semua tentang Kak Radit sudah aku lupakan, maaf Mia aku capek aku mau istirahat”. Kututup telephonnya.
Mulai saat itu setiap Mia menelponku tak pernah lagi kami membahas tentang Kak Radit, kami hanya membahas hal-hal yang selalu membuat  kami tertawa. Akhir semester aku mendapatkan surat dari Kak Radit.
Untuk sahabat masa kecilku yang selalu kusayang,
Aku minta maaf atas semua yang telah aku lakukan selama ini, aku tak pernah tahu bahwa kamu memendam rasa padaku. Dan saat kau katakan bahwa kamu mencintai aku, aku benar-benar merasa bersalah kepadamu. Aku tau kamu pasti merasa sakit melihat aku bersama Zaskia, tapi aku perlu kamu tahu, aku bersama Zaskia hanya untuk menyelamatkan organisasi OSIS di sekolah kita. Karena jika aku menolak Zaskia, maka Zaskia akan meminta pamannya, Pak Kepala Sekolah untuk tidak menyetujui semua kegiatan yang akan dilaksanakan OSIS. Aku tak pernah mencintai Zaskia karena aku sudah mencintai sahabatku saat kecil, dan kamu pasti tau siapa orangnya.
Tapi Mia sudah menceritakan semuanya padaku, bahwa kamu tak mau lagi mendengar tentang aku. Aku tak mau menyakitimu lagi, biarlah aku saja yang merasa sakit, biarlah kupendam cinta ini, biarlah kubawa cinta ini pergi.
Aku akan melanjutkan kuliah ke Jepang, semoga setelah kembali aku bisa bertemu denganmu lagi. Semoga aku bisa menjaga perasaan cintaku padamu. Bagiku meskipun kau di sini dan aku jauh di sana, kau selalu di hatiku.

Yang mencintaimu,
RADIT

Aku hanya bisa menangis tersedu-sedu membaca surat itu.

Selesai





Si Kribo dan Si Culun
A

lex Ferry Hardiansah adalah cowok ganteng, tinggi, pewaris tunggal “Hardian Travel”, masih muda dan penuh kharisma. Bisa dikatakan cowok ini adalah cowok yang sempurna. Tapi manusia tak ada yang sempurna. Cowok ganteng yang sering disapa Alex ini punya satu kelemahan, dia paling takut dengan orang yang berambut kribo dan orang yang berpenampilan culun. Setiap Alex bertemu dengan orang yang berambut kribo atau berpenampilan culun badannya langsung panas dingin, keringatnya keluar semua. Terkadang dia sampai lari ketakutan.
Selama ini dia mampu menyembunyikan kelemahannya dari orang lain. Hanya kedua orang tuanya yang tau kelemahan Alex. Setiap hari Alex  bangun pagi lalu kuliah. Sepulang  kuliah dia pergi ke perusahaaan travelnya untuk membantu sang Ayah. Sebagai cowok yang tampan dan kaya, Alex bisa dengan mudah mendapatkan wanita manapun yang dia inginkan. Saat ini dia sedang menjalin hubungan dengan Nadia teman satu kampusnya. Nadia adalah cewek yang cantik, anggun, sopan, dan lemah lembut.
Alex merasa dirinya sangat beruntung mendapatkan wanita seperti Nadia, Alex benar-benar dibuat jatuh cinta oleh Nadia. Seperti biasanya setiap jam tujuh malam Rika Sukma Melati mama Alex menyuruh Erina anak pembantu di rumahnya untuk memanggil Alex untuk makan malam. Erina mengetuk pintu kamar Alex, begitu ada suara teriakan Alex menyuruh masuk, Erina masuk ke kamar Alex.
“Ibuk menyuruh Kak Alex turun buat makan malam....!”
“Lho sudah malam to? Bukannya ini masih jam tujuh?!”.
“Injih, ini jam tujuh malam Pakdhe,”
Alex tertawa mendengar jawaban Erina, Alex yang tadinya sedang sibuk dengan laptopnya langsung mendekati ke arah Erina yangs sedang duduk di atas tempat tidur Alex sambil membaca majalah. Melihat Erina sedang membaca majalah otomotif Alex menggoda.
“Cewek kok baca majalah otomotif, pasti cita-citanya jadi montir ya?!”. Alex meledek.
“Enak aja,  cita-citaku jadi tukang ojek tau?!”. Alex dan Erina tertawa
“Semesterannya kapan?”.
“2 minggu lagi kak, oh ya gimana Kak Nadia?”.
“Yah biasa orang ganteng selalu jadi idaman para wanita,” Ujarnya bangga sambil mengusap rambutnya.
“Ihh, pede banget sih, dasar narsis”. Gerutu Erina.
“Bukan narsis, tapi emang tampang gue mirip artis, besuk minggu kakak mau kerumah Nadia, apel gitu kayak di sinetron-sinetron itu”.
“Gimana kalau ternyata papanya Kak Nadia berambut Kribo kayak Edi Brokoli”. Erina menggoda.
“Do’ain kek kakaknya, biar  kencannya sukses, malah ngeledeki”.
“Alex, Erina, cepat turun makan malam sudah siap”. Teriak mama Alex.
Keluarga Hardian memang menaggap Erina serta ibunya seperti saudara sendiri. Erina di sekolahkan oleh keluarga Hardian, Alex juga sudah menganggap Erina sebagai adiknya. Namun di depan orang lain Erina tetap bersikap layaknya anak seorang pembantu umumnya.
Suatu pagi, Erina berangkat sekolah diantar Alex, menggunakan mobil barunya, begitu turun dari mobil, semua teman0teman Erina tak percaya bahwa itu adalah Erina, bahkan teman dekat Erina mengira bahwa Erina berhasil menggaet cowok kaya raya.
“Kamu hebat ya, punya cowok orang kaya raya.”
“Itu bukan cowookku, tapi dia majikan aku. Aku kan Cuma anak seorang pembantu jadi tak usah berkhayal terlalu tinggi”.
Bagi Erina apa yang dia miliki saat ini sudah lebih dari cukup, dia sangat bersyukur karena ada orang sebaik keluarga Hardian. Sepulang dari mengantar Erina, Alex pergi ke taman kota. Sebenarnya mengantar Erina hanyalah alasan Alex supaya diijinkan keluar rumah, karena mamanya Alex sudah hafal kalau Alex pergi pasti akan membeli es cream. Padahal Alex selalu flu setelah  makan es cream.
Hari itu Alex benar-benar bahagia karena bisa bebas makan es krim. Begitu melihat penual es krim dia langsung membeli lalu makan es krim dengan santainya di sebuah tempat duduk. Alex terlalu keasyikan, sampai-sampai dia tak sadar seorang cowok yang memakai kacamata dan berpenampilan culun duduk di sampingnya. Begitu Alex melihat ke arah cowok itu, dia langsung menyapa Alex. Melihat penampilan cowok itu Alex langsung diam terpaku. Es krim yang dipegangnya jatuh begitu saja.
“Hai...!”. Sapa cowok itu.
Keringat dingin keluar dari tubuh Alex. Cowok culun itupun bingung, “Kamu kenapa?”. Tanya cowok culun sambil memandangi wajah gugup Alex dari dekat, sontak Alex langsung  lari terbirit-birit, si Cowok culun terlihat bingung. Alex langsung pulang, sesampainya di rumah mamanya Alex kaget melihat Alex datang dengan muka pucat dan berkeringat, badannya mulai panas.
“Kamu makan es krim lagi ya?”. Tanya sang Mama sambil memegang kening Alex.
“Ini bukan karena es krim kok ma, orang es krimnya belum habis aku makan.
“Bener kan dugaan mama, mama kan sudah bilang jangan                makan es krim!”.
“Alex demam bukan karena makan es krim ma”.
“Katanya tadi makan es krim,”
“Gini ma ceritanya, tadi Alex sedang duduk santai sambil makan es cream, tapi tiba-tiba datang seorang yang berpenampilan aneh.”
“Culun maksudnya?!”.
“Iya, terus aku langsung berkeringat dan merasa ketakutan jadi es cream yang aku pegang jatuh. Lalu aku lari terbirit-birit ma”.
Mendengar cerita anaknya, Rika tertawa terbahak-bahak melihat reaksi mamanya Alex menjadi cemberut.
“Mama kok tertawa? Anaknya demam berat gini kok malah tertawa. Mama keluar aja, alex mau tidur.”
Alex mendorong tubuh  mamanya yang masih tertawa terbahak-bahak keluar rumah. Lalu dia tidur dengan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Sepulang sekolah Erina pergi ke kamar Alex, berniat melihat keadaan orang yang dianggapnya sebagai kakaknya itu. Begitu Erina masuk terlihat Alex sedang tidur di atas kasur, wajahnya pucat Erina memegang kening Alex.
“Kenapa  lagi? Ketemu orang kribo lagi?”.
“Orang Culun”.
“Kakak itu memang aneh, punya penyakit kok penyakit nggak masuk akal”.
“Siapa juga yang mau begini, ini kan bawaan dari lahir Erina.”
“Sudah minum obat?”.
“Emang ada obat untuk orang yang takut sama orang yang berambut kribo dan bergaya culun?”.
“Tanya saja sama ayam!”.
“Emang ayam tau?”.
“Eh... nggak sakit, nggak sehat sama aja ya. Penyakit kakak itu nggak Cuma dua itu aja, tapi gila juga”.
Erina pergi, sedangkan Alex kembali melanjutkan tidurnya. Keesokan harinya Alex terlihat sudah sehat, hari itu Minngu pagi Alex mengajak Erina bersepeda. Mereka bersepeda mengelilingi taman kota, Alex terkadang suka genit sama cewek-cewek yang sedang jogging, melambaikan tangan sambil tersenyum kepada setiap cewek yang dilewatinya dengan bersepeda.
Secara tak sengaja seorang cewek berambut kribo tiba-tiba menyapanya, cewek kribo itu bersepeda dan mendekat ke samping Alex. Sontak, Alex kaget dan mengayuh sepedanya dengan cepat meninggalkan cewek kribo itu. Terlihat Alex ketakutan, Erina pun berteriak memanggil Alex tapi Alex terus mengayuh sepedanya dengan cepat.
“Kak Alex tungguin!”. Erina berteriak.
Setelah dirasa cukup jauh Alex berhenti, nafasnya kembang kempis, keringatnya bercucuran, wajahnya memerah. Setelah mampu mengejar Alex, Erina pun berhenti di dekat Alex.
“Kak Alex, kok ninggalin aku?!”.
“Kmau nggak lihat ada cewek kribo tadi?”.
“Gitu  aja takut”. Erina tertawa, Alex cemberut.
“Lagian kok ada sih cewek yang punya rambut kayak giru?”.
“Kakak aja yang ketinggalan jaman, itu trend tahun tahun 2011 gitu lhoh”.
“Trend?, rambut kayak bulu domba itu jadi trend, ih amit-amit!”.
“Aku juga pengin punya rambut kayak gitu”.
“Jangan dong, please jangan buat rambut kamu seperti bulu domba, kamu benar-benar cantik dengan model rambut yang seperti sekarang kamu mirip artis Arumi Bachsin”.
“Bilang aja kalau takut”. Alex dan Erina tertawa.
Siang harinya Alex sedang sibuk memilih-milih baju semua isi lemarinya dia keluarkan, dia berpikir bahwa dia butuh seseorang untuk memberikan penilaian pada penampilannya. Alex turun menuju dapur, disana dia melihat Erina sedang membuat jus strawberry, tapi Alex langsung menarik tangan Erina.
“Kak Alex apa-apaan sih, aku lagi bikin jus nih”.
“Ayo ikut  kakak sekarang”.
“Tapi jus aku?!”.
“Bik asih tolong ya”.
“Iya mas, sudah kamu tinggal aja, ikut mas Alex ke kamarnya”.
Sesampainya di kamar Alex, Alex menyuruh Erina duduk lalu dia mengambil baju yang pertama lalu masuk ke kamar mandi untuk mencobanya. Sedangkan Erina duduk di atas tempat tidur Alex sambil membaca majalah. Ketika Alex keluar dari kamar mandi, dia memperlihatkan baju yang dipakainya lalu meminta pendapat Erina, Erina melihat ke arah Alex lalu menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju dengan baju yang dikenakan Alex sekarang, melihat itu, Alex mengambil baju lain dan kembali memakainya hingga lima kali.
“Heh kodok, kaka sudah ganti lima kali masak nggak ada yang menurut kamu cocok?!”.
“Heh monyet, emang dasar kurang kerjaan ya, mau kencan aja ribet banget, gimana kalau mau kawin. Pakek yang mana aja kenapa?”.
“Memang bukan mau kawin, tapi ini kencan spesial. Kakak akan datang ke rumah Nadia, jadi Kaka harus kelihatan ganteng di depan mama dan papnyanya”.
“Terlihat ganteng?, operasi plastik aja dulu biar ganteng kayak dude Harlina”. Erina tertawa.
Mendengar jawaban itu Alex langsung mengambil guling lalu memukul badan Erina, Erina pun mengambil bantal dan membalas Alex. Mendengar suara ribut dari kamar Alex, Rika pun melihat dari dekat. Begitu kamar Alex dibuka Rika berteriak, dilihatnya kamar anaknya itu berantakan seperti kapal pecah, bantal, selimut, guling, baju, majalah, berserakan di mana-mana.
“Ya Allah Alex, Erina sehari saja kalian tidak berantem nggak bisa ya?. Kalian berdua bereskan kamar ini sampai rapi!.”
“Iya Mama cantik”.
Alex dan Erina pun merapikan kamar Alex sambil terus bercanda. Setelah selesai merapikan kamarnya, Alex mandi dan bersiap-siap pergi ke rumah Nadia. Setelah dia siap dia menuju dapur untuk memperlihatkan penampilannya.
“Gimana, OK kan?”. Tanya Alex sambil bergaya di depan Erina.
“Sepertinya ada yang kurang,” Erina menepuk-nepuk dagunya.
“Apa?”.
“Kurang ganteng.” Erina tertawa, sedangkan Alex menggerutu.
Alex berangkat dengan hati riangnya, menyetir mobil sambil bersenandung sesekali dia berkaca di cermin samping atas kepala Alex, sambil mengusap rambutnya dia tersenyum. Dalam hatinya, Nadia pasti akan terpesona padanya, dan setelah melihat dia orang tua Nadia pasti akan langsung merestui hubungan mereka.
Tak terasa Alex sudah sampai di depan rumah Nadia, Alex turun dari mobil lalu merapikan dandanannya dan berjalan menuju rumah Nadia, Alex menekan tombol di samping pintu, dia tunggu seseorang membuka pintunya. Alex mengulang menekan tombol hingga tiga kali, tapi belum juga ada yang membuka pintunya.
“Kemana sih  Nadia ?”.
Tak beberapa lama seseorang membukakan pintu, ternyata Nadia. Melihat Alex Nadia tersenyum padanya lalu mengajak Alex masuk ke rumah. Tapi Alex bingung kenapa suasana rumah  Nadia sepi, kemanakah papa dan mama Nadia, kenapa tidak nampak?. Nadia menjelaskan kemana papa dan mamanya pergi.
“Papa, mama, tante, sama om lagi pergi ke rumah teman yang sakit, jadi aku di rumah sama sepupu aku, aku kenalin ya,.
Alex menganggukkan kepala, Nadia pun memanggil adik sepupu laki-lakinya yang bernama Ezza, tak lama kemudian datanglah seorang anak cowok berusia 10 tahun.  Badannya tidak terlalu tinggi, dan yang paling aneh dia berambut kribo. Begitu melihat Ezza, Alex menjadi gugup, mukanya merah padam.
“Ezza, kenalin ini temen kakak, Namanya Kak Alex, salaman dong!”.
Mendengar tiu Alex terkejut, dilihatnya wajah Ezza yang sedang tersenyum kepadanya. Alex merasa badannya panas dingin, apalagi saat Ezza mengulurkan tangannya kepada Alex, Alex hanya menyentuh tangan Ezza, lalu secepat kilat dia tarik kembali tangannya.karena merasa badannya hampir basah oleh keringat, Alex meminta Nadia mengantarnya ke toilet. Melihat Alex yang terus berkeringat, dan terlihat seperti orang ketakutan Nadia bingung.
“Kamu kenapa? Kok berkeringat? Kamu sakit ya?”.
“Enggak apa-apa. Aku Cuma mau kencing aja.”
Di dalam kamar mandi Alex menenangkan dirinya, dia berusaha tenang sambil terus mengusap keringat di wajahnya. Setelah lama dia mencoba menenangkan diri, dia berpikir bagaimana caranya supaya dia tidak gagal kencan dengan Nadia hanya karena Ezza yang berambut kribo. Akhirnya dia menemukan ide untuk mengajak Nadia jalan-jalan. Jadi dia tidak akan berurusan dengan bocah berambut kribo itu.
Setelah keluar dari kamar mandi Alex menghampiri Nadia, tau ada Ezza yang sedang bermain di lantai Alex menutup matanya dengan tangan kirinya supaya dia tidak melihat rambut anehnya Ezza.
“Kok lama banget di kamar mandinya?!”.
“Tadi tiba-tiba aku sakit perut, gimana kalau kita jalan-jalan aja?”.
“Boleh, aku ganti baju dulu ya, aku titip Ezza ya!”.
Alex menganggukkan kepalanya, melihat ada majalah di atas meja, Alex mengambilnya, bukan untuk dibaca tapi hanya untuk menutupi wajahnya supaya tidak bisa melihat Ezza. Tapi Ezza adalah anak yang mudah bergaul, jadi dia ingin ngobrol dengan Alex.
“Kakak pacarnya Kak Nadia ya?”. Alex tak menjawab, dia masih berpura-pura sedang membaca majalah. Tapi mendengar pertanyaan Ezza, Alex memberi isyarat dengan mengangkat ibu jarinya yang berarti iya. Melihat itu, Ezza mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Sudah lama ya pacaran sama Kak Nadia?”.
Alex mengangkat tiga jarinya.
“Tiga tahun?”.
Alex melambaiakan tangannya tanda bukan.
“Tiga bulan?” Alex melambaikan tangannya lagi.
“Tiga minggu?”. Alex mengangkat ibu jarinya tanda benar.
“Asyik banget baca majalahnya, kakak lagi baca apa sih?, ikut dong!”.
Ezza duduk di samping Alex, Alex pun sontak kaget. Dia langsung geser ke tempat yang agak jauh dengan Ezza, Ezza pun terus mengikuti Alex.
“Kakak kenapa sih? Aku kan mau ikut baca majalah”.
“Ini kamu baca sendiri, sana jangan dekat-dekat kakak”. Alex memberikan majalah yang tadi dipegangnya.
Ezza pun langsung membuka-buka majalah, lalu membacanya dengan keras. Sedangkan Alex duduk di ujung sofa smabil memegang HP di tangannya, dia hendak menelpon Erina. Tapi suara Ezza membuatnya tidak bisa konsentrasi.
“Busana tahun ini lebih colorful tidak seperti tahun lalu yang hany itu-itu saja”. Setelah membaca itu, Ezza diam, dia tampak bingung, lalu dia bertanya pada Alex yang hendak menelpon Erina.
“Kak Alex, colorful itu artinya apa sih? Masak color U?”.
“Colorful itu artinya penuh warna warni”. Alex melihat sekilas ke arah Ezza lalu membalikkan badannya. Alex bergumam dalam hatinya, lama kelamaan dia akan mati jika terus ada di sini. Bersama Ezza si rambut keribo. Akhirnya selesai juga Nadia dandan, lalu mengajak Alex berangkat. Alex mengela napas karena inilah saat-saat yang dinantikannya, bebas dari Ezza si kribo.
Tapi Alex benar-benar kaget setengah mati hingga hampir pingsan, keringat dingin dari tubuhnya menetes ketika Nadia bilang hendak mengajak Ezza.
“Ini kan kencan, masak ngajak dia?!”.
“Alex, om sama tante pergi dan Ezza dititipkan ke aku. Sekarang aku mau pergi masak Ezza aku tinggal sendirian di rumah, dia kan masih kecil”.
“Oke”. Kata Alex  sambil menganggukkan kepalanya.
Nadia tersenyum mendengar itu lalu dia ajak Ezza masuk ke mobil, Alex berjalan lemas di belakang mereka. Sepanjang perjalanan Alex hanya diam, melihat ke arah depan seakan dia sedang berkonsentrasi menyetir. Namun sebenarnya dia sangat kesal karena kencannya kacau gara-gara ada Ezza si kribo, dan juga penyakit anehnya yang membuat dia harus jaga jarak dengan Ezza.
Sesampainya di sebuah restoran, Nadia dan Alex langsung duduk di tempat yang di sana nyaman, lalu mereka memesan makanan. Tak berapa lama makanan pun datang, Nadia dan Ezza tampak asyik makan, tetapi Alex terlihat hanya minum jus jeruk yang dipesannya, sedang makanannya tetap utuh di atas piring.
“Kok nggak makan? Dari tadi kamu juga diam aja, kamu kenapa?”.
“Sedikit nggak enak badan, habis ini kita pulang aja ya?”. Kata Alex tak bergairah.
“Oke, aku cepetin ya makannya, Ezza makannya cepet ya!”.
Setelah Nadia dan Ezza selesai makan, Alex pun membayar bonnya lalu mengajak Nadia pulang. Selama perjalanan dari restoran ke rumah Nadi, Alex tetap diam tak bersuara sedikitpun. Sesampainya di depan rumah Nadia, Nadia dan Ezza turun, Alex pun ikut turun.
“Nggak masuk dulu?”
“Nggak usah, aku langsung pulang aja”.
“Ezza bilang makasih ke Kak Alex!”.
“Makasih ya kak!”. Kata Ezza sambil mencium tangan Alex sontak badan Alex terasa lemas tak bertenaga, rasanya dia ingin pingsan menahan rasa takut.
“Aku pulang ya”.
“Hati-hati ya!”. Nadia melambaikan tangannya.
Alex menyetir dengan terus memegang kepalanya, pikirannya ruwet, kencan romantis yang diinginkannya berubah menjadi kencan menakutkan untuknya. Dia ingin segera sampai rumah, sesampainya di rumah dia berjalan lemas dan mobil menuju kamarnya, sesampainya di ruang tamu dia bertemu Erina.
“Kak Alex kenapa, tadi misedcall ya?”.
“Bantuin kakak Erin!, kakak udah nggak kuat”. Suara Alex lirih.
Melihat keadaan kakaknya, Erina membantu Alex berjalan menuju kamarnya. Sesampainya di kamar Alex, Erina menidurkan Alex di tempat tidur, di lepasnya sepatu kakaknya. Lalu diambilkannya air dan obat.
“Kak Alex kenapa?”
“Sepupunya Nadia berambut kribo, dia juga ikut makan malam kita berdua”.
“Jadi kak Alex menahan rasa takut selama ada sepupunya Kak Nadia hingga badan kakak lemas seperti ini?”.
“Kakak benar-benar takut saat dia mencium tangan kakak, rasanya kakak mau lari tapi tak bisa”.
“Oke, sekarang kakak tidur, tenangin diri, besok aja cerita lagi ya”.
Wajar Alex pucat pasi, badannya lemas Erina menyelimuti tubuh kakaknya lalu pergi. Seminggu setelah kejadian itu Alex masih trauma bertemu Nadia, karena terlalu lama dekat dengan Ezza, Alex selalu terbayang rambut kribo Ezza saat melihat Nadia. Saat bertemu Nadia, Alex hanya menyapa lalu pergi dengan alasan sedang sibuk.
Alex merasa hidupnya kacau karena penyakit anehnya, lalu dengan tekad kuat dia mencoba berinteraksi dengan orang berambut kribo dan orang yang berpenampilan culun, tapi setiap kali Alex mencoba, tak sampai 2 menit rasa takutnya memuncak, dan dia hanya bisa lari ketakutan. Melihat perjuangan Alex untuk menghilangkan penyakit anehnya, Dwi Hardian, papa Alex mencari asisten yang berambut kribo lalu disuruhnya berpenampilan culun. Harapannya dengan sering bertemu asistennya Alex menjadi terbiasa dan tidak takut lagi tapi pertemuan pertama asisten papanya dengan Alex, membuat Alex langsung pingsan seketika begitu melihat sang asistennya yang berambut kribo dan berpenampilan culun.
Sampai pertemuannya yang ke-4 Alex selalu pingsan, Alexpun meminta papanya untuk mencari asisten baru, supaya dirinya tidak pingsan setiap datang ke kantor papanya. Semua usaha sudah dilakukan keluarga Alex, tapi Alex tetap saja seperti dulu. Alexpun hanya bisa pasrah dan menganggap kekurangannya itu sebagai warna hidupnya.









SELESAI

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar